![]() |
| Kebergantungan dengan Kendaraan |
Akhir abad 20, kota – kota di dunia tengah di hadapkan pada permasalahan terkait ketergantungan mobil atau kendaraan bermotor. Permasalahan ini bermula dari adanya revolusi industri yang membuat perkembangan teknologi transportasi berkembang pesat, dan rata-rata semua masyarakat menggunakan mobil atau kendaraan bermotor. Perkembangan transportasi yang cepat inilah yang membentuk sebuah perkembangan kota. Namun majunya kota dengan ketergantungannya pada pemakaian kendaraan bermotor meninggalkan banyak permasalahan yang mengganggu keberlanjutan sebuah kota.
Ketergantungan terhadap mobil atau kendaraan bermotor adalah kondisi dimana kota atau wilayah menganggap penggunaan mobil merupakan sebuah keharusan, dan lebih memprioritaskannya dibandingkan dengan infrastruktur lainnya, sampai adanya anggapan bahwa tidak ada pilihan lain dalam menunjang sebuah perjalanan kecuali dengan mobil atau kendaraan bermotor. Penggunaan kendaraan bermotor ini merupakan suatu persoalan yang mendorong kota menggunakan sumber daya energi, lahan, dan lainnya secara berlebihan, misalnya untuk bahan bakar, yang menyebabkan suatu saat nanti terjadi kelangkaan sumber daya minyak. Bahkan emisi yang dihasilkan kendaraan bermotor merupakan sebuah permasalahan lingkungan yang mengganggu keberlanjutan kota, seperti emisi udara yang menyebabkan efek rumah kaca, kebisingan lalu lintas, dan polusi lainnya yang terkait dengan tidak terserapnya air hujan karena lahan-lahan yang tertutup oleh aspal di kota. Belum lagi tingginya biaya modal infrastruktur baik biaya pembangunan transportasi langsung ataupun biaya tidak langsung (kecelakaan lalu lintas yang mengancam keselamatan & keamanan masyarakat dan dampak polusi yang telah dijelaskan). Selain itu pembangunan transportasi yang berbasis kendaraan bermotor telah menguras kekayaan kota yang menerapkanya, seperti kota-kota di Australia dan US yang menggunakan 12-13% kekayaan kota untuk biaya transportasi berbasis kendaraan bermotor, di kanada dan eropa menggunakan 7-8 %, sedangkan kota asia yang maju seperti Singapura, Hongkong & Tokyo yang telah menerapkan transit oriented hanya menggunakan 5 %, sedangkan kota asia yang sedang berkembang seperti Jakarta, bangkok menggunakan 15% dari kekayaan kota mereka untuk infrastruktur kendaraan bermotor, dan hal tersebut kurang baik untuk ekonomi kota.
SUMBER :
Newman, Peter W.G., Kenworthy,
Jeffrey R. 1999. Sustainability and Cities: Overcoming Automobile Dependence.
Island Press : Washington, D.C., USA
Jeffrey R. 1999. Sustainability and Cities: Overcoming Automobile Dependence.
Island Press : Washington, D.C., USA

Komentar