Langsung ke konten utama

Aksesibilitas dalam Perancangan Kota - Street VS Road

Kali ini, gue akan mengulas bagaimana Aksesibilitas bermain dan berperan menjadi sebuah prinsip perancangan kota. Thanks sebelumnya, udah singgah...

Daya tarik kota di masa mendatang akan sangat luar biasa, dimana akan terjadi migrasi besar-besaran ke kota, bahkan prediksi PBB yang dibahas dalam buku City Building menyatakan pada tahun 2030 penduduk kota akan menghasilkan hampir dua pertiga populasi dunia, dan setiap hari di seluruh dunia puluhan ribu orang pindah ke daerah kota. Sehingga tanpa disadari atau tidak akan tercipta banyak tantangan dan persoalan yang cukup pelik dalam keberlangsungan sebuah kota. Adanya prinsip perancangan kota yang digagas oleh Kriken dan ahli perencana atau perancang kota tentu sangat penting dalam menghadapi kondisi tersebut. Salah satunya adalah Prinsip Aksesibilitas.

Menurut Kriken, bahwa Aksesibilitas merupakan salah satu prinsip perancangan kota yang sangat penting, karena berhubungan dengan pergerakan manusia dan barang. Apalagi terdata sekitar 1,25 juta kematian lalu lintas terjadi setiap tahunnya (Duncan, 2005) dan suatu kota harus memfasilitasi kemudahan bergeraknya orang, barang dan jasa. Artinya setiap kota harus menyediakan aksesibilitas yang baik bagi penduduk.
 
Dalam buku Global Designing Cities Initiative - NACTO, 75% populasi dunia diperkirakan akan tinggal di kota-kota pada tahun 2050, jalan-jalan kota perlu menyeimbangkan tuntutan untuk meningkatkan mobilitas pribadi dan akses terhadap ekonomi kota. Maka kapasitas jalan perkotaan harus ditingkatkan dengan cara yang mendukung konteks perkotaan dan keamanan lalu lintas menjadi perhatian, karena lalu lintas berhubungan langsung dengan interaksi diantara orang, lingkungan, jalan, kendaraan dan penciptaan kualitas hidup di kota.
Kali ini kita akan bahas Street dan Road. Street dapat didefinisikan sebagai sebuah unit dasar ruang kota. Hal ini sering disalah artikan sebagai permukaan dua dimensi yang dikendarai kendaraan saat berpindah dari satu tempat ke tempat lain atau yang disebut Road. Sehingga dalam perancangan road dan street itu berbeda. Streets sebenarnya ruang multidimensional yang terdiri dari banyak permukaan dan struktur, baik dibatasi oleh fasade bangunan, lansekap, ataupun setback bangunan (NACTO, dalam buku Global Designing Cities Initiative).
Mengapa dibahas perbedaan street dan road, karena banyak orang indonesia yang masih menganggap bahwa street dan road tidak ada bedanya. Seperti dicontohkan pada gambar 1 berikut.
 

Gambar 1   Baker Street London (Bawah) & Bayshore Road, Kota Oregon (Atas) 
Sumber: commons.wikimedia.org

Road
Jaringan jalan masa kini telah memiliki banyak evolusi, semenjak pertama kalinya setelah revolusi industri terjadilah perubahan yang signifikan dari jalan, termasuk adanya hirarki jalan. Berdasarkan bukunya Carmona, The Dimensions of Urban Design, sebelum masa revolusi industri pergerakan orang hanya dengan mengandalkan berjalan kaki dan kendaraan kuda, sehingga kondisi jalan saat itu hanya bisa mengakomodir lebar dari kereta kuda, dan permukaan jalan masih banyak menggunakan tanah.
Semakin berkembangnya revolusi industri tidak hanya berdampak besar bagi industri atau pabrik, begitupun juga perkembangan di bidang transportasi, efeknya kendaraan diproduksi secara masal khususnya roda empat dengan peningkatan kecepatan dan ukuran yang semakin beragam. Namun perkembangan industri tersebut tidak ditunjang dengan kondisi jaringan jalan yang memadai, sehingga terjadi hiruk pikuk dan memberikan ketidaknyamanan kota, dimana kendaraan dapat mengakses jaringan jalan seenaknya dengan kecepatan yang tidak menentu namun kondisi jalan yang cenderung tidak berubah. Kondisi tersebut berdampak pada tidak nyamannya lalu lintas, khususnya pejalan kaki. Dan cara terbaik untuk mengakomodasi hal tersebut yang dikemukakan Carmona dalam buku The Dimension Of Urban Design  adalah membuat jaringan jalan khusus sesuai pergerakannya.

Arsitek dan perencana kota Jerman Ludwig Hilberseimer menggagas sebuah rancangan pemisahan jalan melalui pengenalan sistem hirarki. Fungsinya adalah untuk mendistribusikan lalu lintas melalui rute berhirarki yang sangat sesuai dengan volume lalu lintas dan tujuannya (Carmona, 2003:87). Ludwig focus kepada meningkatkan kecepatan sirkulasi lalu lintas dan membuatnya aman bagi anak usia sekolah dasar untuk berjalan ke sekolah. Di sisi lain terdapat ide yang dikenal sebagai Perry’s Neighborhood Unit Concept (1929) yaitu gagasan untuk memisahkan berbagai mode lalu lintas yang dikembangkan lebih lanjut selama akhir 1920an (Carmona, 2003 :89).
Gambar 2    A diagram of Clarence Perry’s neighbourhood Unit
Sumber: researchgate.net
 
Pada gambar 2 menunjukkan konsep Perry yang mengklasifikasikan jalan sesuai hirarki dengan konsep pemukiman. Konsep ini dikembangkan sedemikian rupa untuk menampung kegiatan hidup sehari-hari, dalam suasana yang nyaman, manusiawi, serta mementingkan hubungan komunitas.
Dalam Laporan Buchanan 1963, dari Carmona 2003 bahwa Lalu Lintas di Kota mulai diperkenalkan dengan gagasan tentang 'hirarki‘. Sistem ini bisa disamakan dengan batang tubuh, tungkai, cabang, dan akhirnya ranting (sesuai dengan jalan akses) pohon.
Pada dasarnya, hirarki jalan terbagi ke dalam dua hirarki seperti apa yang disebutkan oleh hebbert dalam bukunya Carmona bahwa dalam analogi organik yang sering digunakan adalah arteri dan sel.
  • Arteri
Hirarki jalan arteri yaitu jalan yang dirancang untuk pergerakan atau aliran lalu lintas yang lancar dengan mengurangi konektivitas (yaitu dengan membatasi jumlah jalan lain yang menghubungkannya). Untuk mencapai kecepatan desain, jalan perkotaan dirancang atau dimodifikasi untuk memberikan penglihatan yang jauh ke depan dan jarak pandang yang lebar di tikungan. Selain itu rancangan jalan arteri harus mengendalikan & menghindarkan gangguan pada pengemudi.
Dalam buku tahun 1964 Planning for Man and Motor, Ritter (1964: 34) mengemukakan bahwa keselamatan harus dipastikan dengan membuat pejalan kaki menjauh dari mobil dan pengendara mobil dari 'gangguan ' seperti toko, iklan dan gangguan samping lainnya. Semakin banyak gangguan maka semakin besar ancamannya (Dikutip dari Hebbert 2005: 43 dalam bukunya Carmona). Karena seperti dikemukakan di awal banyak sekali kematian yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.   
  • Sel
Sel atau jaringan jalan lokal di kawasan lingkungan, yang dimaksudkan untuk membawa beban lalu lintas yang lebih ringan.
Jaringan jalan yang hirarki memisahkan dan memecah daerah perkotaan menjadi kantong-kantong. Kantung semacam itu membantu menghasilkan rasa identitas, rasa komunitas dan rasa aman bagi mereka yang tinggal di wilayah tersebut, di mana ruang publik jalan ditutup untuk akses publik oleh gerbang seperti pada konsep Perry Neighbourhood Unit.

  
Street adalah ruang publik terpenting. Street merupakan jalan-jalan dengan melayani banyak fungsi, tidak hanya sirkulasi lalu lintas, tapi pejalan kaki, pesepeda, tempat bermain dan bertemu orang. Ruang yang ditentukan oleh bangunan membingkai sebuah street. Pada buku Global Designing Cities Initiative menjelaskan bahwa jalan perlu didesain, karena memiliki kepentingan yang cukup tinggi, diantaranya: 

  • Jalan Sebagai Ruang Publik
Jalan-jalan seringkali merupakan ruang publik yang paling vital namun kurang dimanfaatkan di kota-kota. Selain menyediakan ruang untuk perjalanan, jalanan memainkan peran besar dalam kehidupan publik kota dan harus dirancang sebagai ruang publik serta jarinagn untuk pergerakan.
Contohnya di Kota Bandung yang menerapkan jalan sebagai ruang publik saat weekend, di beberapa jalan dijadikan sebagai tempat Car free day yang menjadi ruang publik warga bandung untuk berkumpul, olahraga dan beraktifitas di hari libur.
  • Jalan berpotensi untuk Bisnis
    Kota-kota telah menyadari bahwa jalan-jalan merupakan aset ekonomi. Jalan yang dirancang dengan baik menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi untuk bisnis dan nilai yang lebih tinggi bagi pemilik rumah 
    • Jalan Bisa diubah
    Banyak jalan kota dibangun atau diubah di era yang berbeda dan perlu dikonfigurasi ulang untuk memenuhi kebutuhan baru. Ruang jalan juga bisa digunakan kembali untuk tujuan yang berbeda, seperti parkir, sepeda, dan penerapan traffic calming.
    Kota Bandung juga menerapkan jalan dengan multi fungsi, seperti di jalan Cibadak Bandung, yang jalannya bisa berubah di malam hari menjadi culinary night. 
    • Desain untuk Keselamatan
    Pada tahun 2012 di A.S., lebih dari 34.000 orang tewas dalam kecelakaan lalu lintas, yang juga merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak berusia 5-14 tahun. Kematian dan ratusan ribu luka ini bisa dihindari dengan merancang jalan-jalan di mana orang-orang berjalan, parkir, belanja, bersepeda, bekerja, dan mengemudi dapat melewati jalan dengan aman.
    Artinya jalan adalah ruang multi fungsi dan selalu ada risiko konflik antara kegunaan. Kuncinya adalah merancang semua kegunaan dan pengguna.

     Gambar 3    Jalan Cibadak Bandung berubah Fungsi menjadi tempat publik di Malam Hari

    Gambar 4   Jalan Dago berubah fungsi menjadi Ruang Publik hari Minggu untuk Car Free Day

    Untuk menciptakan keamanan tersebut maka jalan dibedakan berdasarkan tipe sesuai karakter dan kapasitasnya. Kapasitas adalah bagaimana suatu pergerakan setiap jenis dapat diakomodasi dengan aman. Sedangkan karakter merupakan peran jalanan di wilayah perkotaan dan jenis bangunan dan lanskap yang melapisinya. Berikut adalah tipe atau jenis jalan berdasarkan karakter dan kapasitasnya.

    Sumber: Urban Design Compendium, 2007


    Gambar 5    Skema Jenis Jalan berdasarkan Kapasitas dan Karakternya
    Sumber: Urban Design Compendium, 2007
      


    SUMBER:
    Buku dan Pedoman
    Kriken, dkk. 2010. City Building-Nine Planning Principles for the Twenty First Century. New York: Pricenton Architectural Press.
    Carmona, dkk. 2003. Public Place Urban Place-The Dimension Of Urban Design. USA: Routledge.
    English Partnership, Corporate Strategy and Communication Department, Urban Design Compendium, Llewelyn-Davies, London, 2000
    Duncan, Skye. 2015. Global Designing Cities Initiative. Austin: NACTO Designing Cities Conference.
    Word Resourch Institute, Cities Safer By Design, USA, 2002.
    Pedoman Konstruksi & Bangunan Kementerian PU, 2004

    Artikel
    Ulu, Nurul. "Cibadak In The Morning".bandungdiary.id. 22 Januari 2015. 07 Desember 2017<http://www.bandungdiary.id/2015/01/cibadak-in-morning.html

    “Wisata Kuliner Malam di bandung.” perutgendut.com. 31 Mei 2016. 13 Desember 2017<http://www.perutgendut.com/posts/read/wisata-kuliner-malam-di-bandung/1783

    "Jalan Dr Djunjunan Pasteur Bandung Macet". tribunnews.com. 29 Maret 2017. 19 Desember 2017<http://www.tribunnews.com/images/regional/view/1694726/jalan-dr-djunjunan-pasteur-bandung-macet

    "Tren Bersepeda dan Car Free Day". rizaldp.wordpress.com. 13 Desember 2010. 07 Desember 2017 <https://rizaldp.wordpress.com/2010/12/13/tren-bersepeda-dan-car-free-day/

    Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    Wajah Kota dapat dirubah gak ya??

    Hai Ruangers... Kali ini aku akan menulis lagi soal kota. Oke, tulisan ini diawali dari pertanyaan "Apakah wajah kota dapat dirubah?" Sebuah kota kadang nampak indah,rapih.. tetapi ada juga yang tampak buruk dengan berhiaskan sudut-sudut kekumuhan. Namun, taukah kamu bahwa wajah kota atau citra kota dapat dirubah? alias disulap dari suasana yang sumpek, panas, kumuh, penuh emosi, berubah menjadi suasana yang adem, resik, dan tertata. Oke, buktinya ada sebuh kota yang mampu membenahi diri. yok, kita main-main dulu ke luar deh yah.. walaupun belum pernah kesana, tapi seenggaknya kita tau kalau ada kota diluar sana yang telah berhasil menjadi kota yang elok. So, Tulisan ini akan menjelaskan bagaimana sebuah kota dapat berubah dari kota yang terpuruk, keras dan tidak ingin ditinggali menjadi kota yang sangat menyenangkan. Satu kuncinya, dengan mendalami "Urban Culture". Kamu tau kan Chicago? yang sering disebut The Windy City, alias kota yang anginnya kenceng ban...

    Apa yang disebut Kota Berkelanjutan?

    Oke, baik guys.. tulisan pertama ini aku mau cerita tentang Kota Berkelanjutan. Maybe kamu sering denger tentang "Kota Berkelanjutan", apalagi bagi kamu-kamu yang kuliah di jurusan Planologi atau Perencanaan Wilayah Kota pasti sudah tau donk.. tentang hal ini. Tetapi, bagi yang lain ada juga yang belum tau tentang kota berkelanjutan. So, hari ini saya akan bahas tentang kota berkelanjutan dari sumber buku yang saya baca.   Menurut Peter Newman dan John Kenworthy, Kota yang berkelanjutan itu yang seperti apa sih? jadi Kota yang berkelanjutan itu adalah kota yang memiliki konsep pengembangan dengan tujuan utama meningkatkan kualitas lingkungan & ekonomi yang lebih baik, juga  melibatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunannya. So, kalo disederhanakan, kota berkelanjutan itu merupakan sebuah konsep yah guys.. konsep buat ngembangin sebuah kota. Nah.. sebenernya banyak konsep-konsep buat ngembangin kota, cuma di era global saat ini, konsep berkelanjutan i...